Friday, June 13, 2014

Piala Dunia Brazil 2014 Yang Tragis

Piala Dunia Brazil 2014 yang telah dibuka di Stadion Corinthias, Sao Paulo, menyimpan momen tragis mengiringi jalannya persiapan dari 8 tahun yang lalu hingga acara pembukaan semalam.

Dimulai dari "tidak biasanya" seperti upacara pembukaan Piala Dunia sebelumnya dimana Presiden Negara penyelenggara maupun Presiden FIFA melakukan pidato pembukaan, Piala Dunia Brazil 2014 dibuka tanpa ada pidato maupun basa-basi dari tuan rumah. Ada apa gerangan?

Pembukaan pesta sepak bola sedunia yang diharapkan menyuguhkan kemegahan tidak tampak di stadion yang menampung 61.000 penonton tersebut. Banyak ruang kosong di lapangan yang menimbulkan kesan sepi.

Upacara Pembukaan Piala Dunia 2014


Belum lagi penampilan Jennifer Lopez, PitBull, dan Claudia Leitte yang menyanyikan lagu tema Piala Dunia 2014 berjudul We Are One (Ole Ola) mendapatkan banyak kritik di Youtube. Secara garis besar, kritik dilontarkan mengenai tata audio yang tidak jelas serta busana yang mereka kenakan. Untuk video pembukaan Piala Dunia Brazil bisa Anda lihat di bawah ini.

Brazil Menang Atas Kroasia

Setelah pesta pembukaan selesai, laga pembuka tim Brazil melawan Kroasia pun dimulai dengan hasil akhir 3 - 1 yang dimenangkan oleh tim tuan rumah, Brazil. Dua gol disarangkan ke gawang Kroasia oleh bintang pemain Brazil, Neymar, dan Oscar yang menempati posisi lini tengah.

Dibalik Piala Dunia Brazil 2014

Brazil tidak henti-hentinya diguncang prahara sejak diputuskan FIFA delapan tahun yang lalu menjadi penyelenggara even sepak bola sejagat. Kontroversi dan ironi banyak mewarnai Piala Dunia kali ini, dan hal itu bukan hanya karena upacara pembukaan yang lengang dan tanpa ramah tamah pidato dari Presiden. Berikut ini beberapa kejadian yang tragis yang dimaksud.

Pembangunan stadion di 12 kota penyelenggara memakan korban jiwa. Sebanyak delapan pekerja kehilangan nyawa, mulai dari tewas tertimbun material hingga akibat jatuh dari ketinggian. (kalau orang kita bisa bilang, "mungkin minta tumbal.")

Jutaan warga kota penyelengara turun ke jalan berdemonstrasi ketika Piala Konfederasi berlangsung. Piala Konfederasi adalah ajang yang digelar satu tahun sebelum Piala Dunia.

Demonstran menganggap dana 11 Milyar US Dollar yang dikeluarkan untuk biaya penyelenggaraan Piala Dunia terlalu besar, sedangkan masih banyak yang harus dibenahi di negara tersebut. Fasilitas kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja yang mestinya mendapat alokasi dana tidak mendapat perhatian.

Mogok kerja secara massal terjadi dimana-mana. Polisi yang seharusnya mengamankan situasi juga ikut-ikutan mogok kerja demikian halnya para Guru dan karyawan. Para demonstran yakin jika dana sebesar itu pasti ada yang dikorupsi.

Yang paling parah dirasakan adalah ketika para pekerja transportasi kereta bawah tanah juga mogok yang menyebabkan aktivitas transportasi terganggu. Kereta bawah tanah atau Metro menjadi salah satu sarana utama transportasi di Sao Paulo. Beruntung, kereta bawah tanah tersebut mulai berjalan ber-aktivitas seperti semula menjelang peluit Kick Off dibunyikan.

Presiden Brazil, Dilma Rouseff, mengindikasikan kekacauan yang terjadi menjelang penyelenggaraan Piala Dunia tersebut berhubungan dengan pencitraan dirinya menjelang pemilihan Presiden bulan Oktober mendatang.